Joko Widodo, mantan Presiden RI, kini kembali menjadi sorotan dunia. Setelah mengakhiri masa jabatannya, namanya justru semakin bersinar di kancah global. Kali ini, Jokowi mendapat kehormatan dengan ditunjuk sebagai penasihat di Bloomberg New Economy, sebuah langkah yang mengundang rasa penasaran publik. Apa sebenarnya alasan di balik penunjukan ini, dan apa dampaknya bagi Indonesia?
Keputusan ini menjadi bukti nyata bahwa pengaruh Jokowi masih sangat diperhitungkan di dunia internasional. Penunjukan dirinya sebagai anggota Dewan Penasihat Global Bloomberg New Economy menempatkan Jokowi dalam jajaran tokoh ekonomi dan pemerintahan dunia yang berpengaruh. Sebuah forum yang menjadi wadah bertukar pikiran mengenai isu-isu krusial ekonomi global.
Penunjukan ini diumumkan pada 9 April 2025 di New York, Amerika Serikat. Jokowi akan bergabung dengan tokoh-tokoh ternama seperti mantan menteri perdagangan AS Gina Raimondo dan mantan perdana menteri Italia Mario Draghi.
Lalu, apa yang membuat Jokowi dipilih?
Alasan pemilihan Jokowi cukup menarik perhatian. Bloomberg New Economy menyoroti latar belakang Jokowi yang tidak lazim. Ia adalah presiden pertama Indonesia yang berasal dari kalangan non-militer dan non-elite politik.
Bloomberg bahkan secara resmi menggarisbawahi rekam jejaknya sebagai politisi, insinyur, dan pengusaha yang sukses memimpin negara berkembang dengan peran ekonomi yang semakin signifikan. Pandangan segar Jokowi dianggap sangat berharga dalam forum global yang kini menghadapi berbagai tantangan.
Dewan Penasihat Global sendiri bertugas memberikan ide-ide strategis terkait isu-isu kompleks. Mulai dari perubahan perdagangan, investasi, teknologi, hingga krisis iklim yang semakin nyata. Hadirnya Jokowi diharapkan dapat membuka dialog yang lebih inklusif dan memberikan solusi yang relevan.
Sebagai seorang penasihat, peran Jokowi akan lebih dari sekadar menjadi nama di daftar. Tugas utamanya adalah memberikan masukan strategis berdasarkan pengalamannya memimpin Indonesia selama 10 tahun. Terutama dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Peran ini bukan hanya sebagai wadah berbagi pengalaman, tetapi juga menjadi jembatan antara Asia Tenggara, khususnya Indonesia, dengan para pemimpin global lainnya.
Kontribusi utama yang akan diberikan Jokowi meliputi:
* **Memberi Nasihat Strategis:** Memberikan masukan mengenai isu-isu perdagangan, investasi, dan teknologi digital.
* **Memperkuat Kolaborasi:** Mendorong sinergi antara sektor publik dan swasta untuk mencari solusi inovatif.
* **Membawa Perspektif Asia Tenggara:** Menghadirkan sudut pandang unik dari kawasan yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi global.
Penunjukan ini dapat dianggap sebagai bentuk “diplomasi ekonomi tidak langsung.” Melalui forum ini, Indonesia memiliki perwakilan yang dapat memfasilitasi komunikasi dan membuka peluang bisnis serta investasi baru. Ini merupakan kelanjutan dari upaya yang telah dilakukan Jokowi selama menjabat, yang terbukti mampu meningkatkan minat investor asing ke Tanah Air.
**Dampak Positif untuk Indonesia dan Masyarakat**
Keterlibatan Jokowi dalam lingkaran elite global ini membawa dampak positif bagi Indonesia.
Di tingkat negara, citra dan pengaruh Indonesia di mata dunia akan meningkat. Hal ini akan memperkuat posisi Indonesia dalam diskusi isu-isu ekonomi global.
Bagi masyarakat, hal ini membuka peluang baru. Jokowi, misalnya, dapat memanfaatkan posisinya untuk ‘menjual’ potensi Indonesia dalam pertemuan dengan CEO perusahaan teknologi raksasa. Ini membuka peluang investasi dan lapangan kerja baru di sektor strategis seperti manufaktur, pariwisata, dan teknologi.
Wawasan yang diperoleh dari forum ini juga dapat membantu pemerintah merancang kebijakan yang lebih tepat sasaran untuk pembangunan berkelanjutan.
Forum berikutnya dari Bloomberg New Economy rencananya akan diadakan di Singapura pada 19-21 November 2025 dengan tema “Thriving in an Age of Extremes”. Kehadiran Jokowi akan menjadi sorotan utama, menandai babak baru dalam perannya di kancah dunia.





