Indonesia mencetak kesuksesan besar di Gamescom 2025, pameran game terbesar di dunia. Selama tiga hari penyelenggaraan, Kementerian Perdagangan RI memfasilitasi lebih dari 150 pertemuan bisnis antara 10 pengembang game Indonesia dengan buyer, publisher, dan developer internasional. Pertemuan ini menghasilkan sejumlah potensi kolaborasi yang menjanjikan bagi industri game dalam negeri.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menyampaikan bahwa pertemuan bisnis ini dirancang untuk memperluas jejaring dan peluang kerja sama pelaku industri game Indonesia di pasar global. Partisipasi di Gamescom 2025 merupakan salah satu strategi pemerintah untuk mendukung ekspansi industri game Tanah Air.
“Pertemuan bisnis ini bertujuan untuk memperbesar peluang kolaborasi, memperluas jejaring bisnis, serta memperbesar potensi kerja sama bisnis pelaku industri gim Indonesia di pasar global,” ujar Puntodewi. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk membantu industri game Indonesia bersaing di kancah internasional.
Kemendag memanfaatkan aplikasi *business matching* MeetToMatch untuk memfasilitasi pertemuan yang terjadwal. Sistem ini memungkinkan para pengembang game Indonesia mempresentasikan produk mereka secara efektif dan membangun koneksi dengan potensi mitra bisnis global, termasuk penerbit, distributor, dan investor.
Keberhasilan pertemuan bisnis di Gamescom 2025 tidak hanya menghasilkan koneksi bisnis, tetapi juga membuka peluang komersial jangka panjang. Beberapa kesepakatan awal sudah dalam tahap penjajakan, seperti kerja sama penerbitan game dengan perusahaan Amerika Serikat, peluang distribusi di Korea Selatan dan Belanda, serta potensi investasi dari Prancis.
Salah satu pengembang game Indonesia, Vincentius Hening, Business Development Director Agate, mengungkapkan apresiasinya atas kesempatan ini. Ia menilai Gamescom 2025 memberikan wawasan berharga tentang industri game global dan peluang kerja sama yang menarik.
“Selain bertemu calon buyer dan mitra, kami melihat industri gim global mulai pulih (dari krisis). Ada beberapa kesempatan yang bisa digarap bersama. Ada beberapa penerbit, seperti dari Tiongkok, Inggris, hingga Amerika Serikat, yang menyatakan ketertarikan dengan produk dan jasa kami. Ajang ini memberi kami kesempatan tindak lanjut pascapameran,” ungkap Vincent.
Pendiri SLAB Games, Hermanto, menekankan pentingnya interaksi tatap muka dalam membangun relasi bisnis. Ia menilai kesempatan berinteraksi langsung dengan calon mitra, bahkan melihat reaksi mereka saat memainkan game, merupakan pengalaman berharga yang tak tergantikan.
“Interaksi dan mengobrol langsung, melihat ekspresi mereka ketika memainkan gim kami. Kita bisa tersambung dengan orang-orang dari industri gim negara lain. Hal-hal ini jadi pengalaman berharga,” ujar Hermanto.
Selain Agate dan SLAB Games, sejumlah studio game Indonesia lainnya juga turut berpartisipasi, termasuk Separuh Interactive, Digital Happiness, Busy Beaver Studio, Gambir Studio, Lapakgaming, Kumagema, Rizero Studios, dan GU-Studio. Partisipasi mereka menunjukkan daya saing industri game Indonesia di level internasional.
Kepala ITPC Hamburg, Faried Wirawan Rachman, menambahkan bahwa Gamescom Jerman merupakan pintu gerbang bagi industri game Indonesia untuk memasuki pasar global dan mengambil peran yang lebih besar dalam rantai pasok global.
“Gamescom Jerman adalah entry point dan akses pasar global. Indonesia dapat ambil bagian lebih besar dalam rantai pasok global industri ini,” tegas Faried.
Data dari Euromonitor International menunjukkan potensi besar industri game Indonesia. Ekspor jasa game developer, animation, dan digital contents services Indonesia mencapai USD 1,33 miliar pada 2024, dengan tren peningkatan hingga 8,54 persen pada periode 2018-2024. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dan prospek cerah bagi industri game Tanah Air di masa depan. Keberhasilan di Gamescom 2025 semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain kunci di industri game global.





