PT Wijaya Karya (WIKA) mengalami kerugian signifikan sebesar Rp 1,66 triliun pada semester I-2025. Kerugian ini sebagian besar disebabkan oleh kinerja buruk PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), konsorsium yang mengelola proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh), dimana WIKA memiliki saham sebesar 33,36 persen.
PSBI sendiri menyumbang kerugian sebesar Rp 542,31 miliar kepada WIKA. Angka ini sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 1,57 triliun. Penurunan kepemilikan saham WIKA di PSBI terjadi setelah penerbitan saham baru yang sepenuhnya dimiliki oleh KAI.
Selain kerugian dari PSBI, WIKA juga mengalami penurunan pendapatan hingga 22,2 persen secara tahunan, menjadi Rp 5,85 triliun pada semester I 2025. Penurunan ini terutama disebabkan oleh anjloknya pendapatan dari segmen infrastruktur dan gedung (turun 32,3 persen menjadi Rp 2,343 triliun) serta segmen industri (turun 29,7 persen menjadi Rp 1,613 triliun).
Meskipun WIKA berhasil menekan beban pokok pendapatan, laba kotor tetap tergerus menjadi Rp 472,55 miliar (turun 26,8 persen). Laba usaha pun anjlok drastis hingga 96,08 persen, hanya menyisakan Rp 133,2 miliar. Kehilangan pendapatan lain-lain sebesar 79,6 persen juga turut memperparah kondisi keuangan WIKA.
Analisis Lebih Dalam Penyebab Kerugian WIKA
Hilangnya keuntungan dari restrukturisasi pinjaman, yang pada semester I 2024 memberikan kontribusi sebesar Rp 3,944 triliun, menjadi pukulan telak bagi WIKA. Beban keuangan yang membengkak hingga Rp 1,38 triliun, ditambah kerugian dari perusahaan pengendalian bersama (Rp 542,31 miliar) dan pajak final (Rp 109,55 miliar), semakin memperburuk situasi.
Akumulasi dari berbagai faktor tersebut menghasilkan kerugian sebelum pajak sebesar Rp 1,693 triliun, dan kerugian bersih mencapai Rp 1,663 triliun. Defisit perusahaan membengkak menjadi Rp 11,2 triliun pada akhir Juni 2025, sementara total ekuitas berkurang 14,4 persen menjadi Rp 10,1 triliun.
Strategi Penanganan Kerugian oleh WIKA
Dony Oskaria, Chief Operating Officer (COO) WIKA, menyatakan bahwa pihaknya tengah mempersiapkan beberapa alternatif solusi yang akan diajukan kepada pemerintah untuk mengatasi masalah Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Pernyataan lengkapnya adalah:
“Jadi, masih ada beberapa alternatif yang akan kami sampaikan kepada pemerintah mengenai penyelesaian daripada kereta cepat ini.”
Selain itu, WIKA juga akan fokus mencari solusi jangka panjang untuk menyelesaikan utang-utang PSBI yang cukup besar. Upaya ini akan dilakukan secara komprehensif, mengingat PSBI merupakan konsorsium yang melibatkan KAI, WIKA, dan Jasa Marga. Pernyataan Dony terkait hal ini adalah:
“Kereta cepat ini kan hasil konsorsium yang di dalamnya ada KAI, WIKA, kemudian Jasa Marga. Nah, ini operasionalnya sedang kami lihat, bagaimana nanti solusi jangka panjang mengenai utang-utang konsorsium ini yang cukup besar dan kami ingin penyelesaian ini berjalan komprehensif.”
Implikasi Ke Depan dan Potensi Solusi
Kerugian besar yang dialami WIKA pada semester I 2025 menimbulkan kekhawatiran terhadap kinerja keuangan perusahaan ke depan. Analisis lebih lanjut perlu dilakukan untuk memahami secara detail faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kerugian, serta mengevaluasi efektivitas strategi yang diusulkan oleh manajemen untuk mengatasi masalah ini.
Pemerintah juga memiliki peran penting dalam membantu menyelesaikan masalah utang PSBI. Dukungan pemerintah, baik berupa kebijakan fiskal maupun restrukturisasi utang, dapat menjadi penentu keberhasilan upaya pemulihan keuangan WIKA dan keberlanjutan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Transparansi dan kolaborasi antara pemerintah dan pihak swasta sangat krusial dalam mencari solusi yang berkelanjutan.
Selain itu, diversifikasi portofolio proyek dan peningkatan efisiensi operasional juga perlu menjadi fokus WIKA untuk mengurangi ketergantungan pada proyek-proyek berisiko tinggi dan meningkatkan profitabilitas di masa mendatang.
Kesimpulannya, kerugian besar WIKA semester I 2025 merupakan tantangan serius yang membutuhkan penanganan komprehensif dan kolaboratif antara WIKA, pemerintah, dan pihak-pihak terkait lainnya. Suksesnya upaya pemulihan bergantung pada strategi yang tepat, dukungan pemerintah, dan kemampuan WIKA dalam melakukan adaptasi dan inovasi.






