Bank Indonesia (BI) telah menyuntikkan dana likuiditas ke perbankan Indonesia senilai Rp376 triliun. Langkah ini sejalan dengan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan mendukung program pemerintah.
Rincian penyaluran dana tersebut meliputi Rp167,1 triliun untuk bank umum dan pemerintah, Rp166,7 triliun untuk bank swasta, Rp36,8 triliun untuk Bank Pembangunan Daerah (BPD), dan Rp5,8 triliun untuk kantor cabang bank asing. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan hal ini dalam rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
“Total Rp376 triliun rupiah kepada siapa saja insentif likuiditas? Satu bank umum atau pemerintah sebesar Rp167,1 triliun lalu swasta Rp166,7 triliun dan BPD Rp36,8 triliun dan kantor cabang Rp 5,8 triliun,” ujar Perry Warjiyo.
Tujuan Penyuntikan Likuiditas dan Dukungan terhadap Program Pemerintah
Tujuan utama dari penyuntikan likuiditas ini adalah untuk mendorong perbankan menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas dalam program “Asta Cita” pemerintah. Sektor-sektor ini diyakini akan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Perry Warjiyo lebih lanjut menjelaskan sektor-sektor yang menjadi prioritas tersebut. “Sektornya apa saja? Insentif likuiditas terhadap sektor prioritas terhadap Asta Cita pemerintah seperti pertanian, real estate, konstruksi, perdagangan, manufaktur, transportasi, perdagangan, dan ekonomi UMKM yang mana sektor prioritas di Asta Cita dan kami dorong pemberian insentif likuiditas dalam penyaluran kredit,” jelasnya.
Dengan demikian, BI berharap penyaluran kredit ke sektor-sektor tersebut dapat memicu pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Kebijakan Moneter BI untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi
Selain kebijakan likuiditas, BI juga menggunakan instrumen kebijakan moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Salah satu langkah yang diambil adalah menurunkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 25 basis points (bps) menjadi 5,25% pada Juli 2025.
“Seluruh kebijakan kami kami arahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” tegas Perry Warjiyo.
Namun, kebijakan moneter ini tetap memperhatikan stabilitas nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi. BI berkomitmen untuk menjaga stabilitas makroekonomi sambil mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Dan arah kebijakan suku bunga BI ke depan kami masih melihat ruang untuk penurunan suku bunga lebih lanjut,” tambahnya.
Langkah Tambahan untuk Menjaga Likuiditas Pasar
BI juga melakukan operasi moneter untuk menjaga likuiditas pasar uang. Salah satunya adalah mengurangi serapan dana investor di Surat Berharga Bank Indonesia (SRBI).
Penurunan serapan dana SRBI yang signifikan, lebih dari Rp140 triliun, diharapkan dapat meningkatkan likuiditas di pasar uang dan memperlancar aktivitas ekonomi. “Kurang lebih turun lebih dari Rp 140 triliun, ini akan menambah likuiditas di pasar uang,” ungkap Perry Warjiyo.
Secara keseluruhan, strategi BI menunjukkan komitmen yang kuat untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan di Indonesia. Kombinasi kebijakan likuiditas dan moneter yang tepat sasaran diharapkan dapat mencapai target pertumbuhan ekonomi pemerintah.
Langkah-langkah ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk memastikan ketahanan sistem keuangan Indonesia menghadapi tantangan global dan mendukung pemulihan ekonomi pasca-pandemi.




