Mantan Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang, memberikan pandangannya mengenai serangan air keras yang dialami Novel Baswedan, mantan penyidik senior KPK. Menurutnya, Novel merupakan sosok yang integritasnya tak perlu diragukan, bebas dari konflik kepentingan, sebuah hal yang langka di lingkungan yang kompleks seperti KPK.
Serangan terhadap Novel terjadi pada April 2017, sesaat setelah salat Subuh. Saut mengatakan bahwa keberadaan Novel yang teguh pada prinsip dan nilai-nilai integritas menjadi faktor yang tidak diinginkan oleh pihak-pihak tertentu.
Saut menyinggung revisi Undang-Undang KPK tahun 2019. Ia mengungkapkan informasi yang didengarnya, bahwa revisi tersebut bertujuan utama untuk menyingkirkan Novel dari KPK. Hal ini menunjukkan adanya upaya sistematis untuk menyingkirkan penyidik yang dinilai berintegritas tinggi.
Motif di Balik Serangan Terhadap Novel Baswedan
Menurut Saut, tujuan utama di balik serangan terhadap Novel adalah untuk menghilangkan sosok yang konsisten menegakkan hukum dan anti korupsi. Keberadaan Novel yang tidak memiliki konflik kepentingan membuatnya menjadi duri dalam daging bagi pihak-pihak yang terlibat dalam praktik korupsi. Ketegasan dan integritas Novel merupakan ancaman bagi mereka.
Saut menjelaskan bahwa meskipun ada perbedaan pendapat diantara pegawai KPK, perbedaan tersebut tidaklah signifikan. Namun, keberadaan Novel yang berpegang teguh pada prinsip dan nilai-nilai anti korupsi membuatnya berbeda dari kebanyakan orang, sehingga menarik perhatian pihak-pihak yang mencoba menghalanginya.
Perbedaan Novel dengan Pegawai KPK Lainnya
Saut menekankan bahwa perbedaan Novel dengan pegawai KPK lainnya bukan terletak pada perbedaan prinsip, melainkan pada konsistensi dan keteguhannya dalam memegang prinsip tersebut. Ia menggambarkan Novel sebagai sosok yang konsisten dan tidak mudah di kompromi, sebuah karakter yang membuatnya menjadi ancaman bagi mereka yang memiliki kepentingan terselubung.
Saut menyatakan, “Saya pernah dengar dari seseorang kenapa undang-undang KPK ini diganti? Sampai bilang begini, yang penting Novel keluar dari situ (KPK). Kalau novel sudah keluar dari situ nanti undang-undangnya, kita balikkan juga enggak apa-apa. You can imagine,”
Pernyataan ini menunjukkan adanya rencana terstruktur untuk menyingkirkan Novel, menunjukkan betapa seriusnya ancaman yang dihadapi Novel karena integritasnya yang tinggi dan keberaniannya dalam membongkar kasus-kasus korupsi.
Saut menegaskan bahwa Novel tidak memiliki konflik kepentingan. “Karena memang dia enggak punya conflik of interest. Once you get that public of interest, mungkin satu kata kamu bisa mislead. Dia sustain, jadi enggak punya conflik of interest,” ujar Saut.
Keberadaan Novel yang bebas dari konflik kepentingan justru menjadi ancaman bagi mereka yang terlibat dalam korupsi. Integritas dan ketegasannya membuatnya menjadi hambatan bagi praktik-praktik koruptif.
Saut menyimpulkan bahwa serangan terhadap Novel merupakan bukti adanya upaya untuk menghilangkan sosok yang berani dan konsisten dalam memberantas korupsi. Keteguhan Novel pada nilai-nilai integritas menjadi ancaman bagi mereka yang berkepentingan dengan keberlangsungan praktik korupsi.
Kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan menjadi cerminan tantangan dalam memberantas korupsi di Indonesia. Integritas dan ketegasan seringkali dihadapi dengan ancaman dan kekerasan. Perlu upaya yang lebih sistematis dan komprehensif untuk melindungi para pejuang anti korupsi dan menjamin keamanan mereka dalam melaksanakan tugasnya.
